Senin, 15 Agustus 2011

"Indahnya Bersyukur"

"Kesiangan"....sy mengawali hari ini dg kata tersebut. Berangkat kerja seperti biasa dg "red spinny" sy, mata terus melihat jam tangan..karna jarum jam terus bergerak mendekati jm 8. Alhasil ugal-ugalan di jalan, dan mengejar waktu supaya tidak terlambat. Hammpiir saja...menabrak bus kota, tp Alhamdulillah...Tuhan masih melindungi sy. Dan Alhamdulillah juga jam masih bersahabat dg sy...karna kali ini sy tidak terlambat (hehehe). Dari sekian banyak pertolongan Alloh dan limpahan berkah yg tak terhitung, kemudian sy teringat beberapa kejadian yg kerap sy temui. 
Kemaren sekitar jm 16.30, dalam perjalanan menuju rumah setelah 8jm bekerja...sy menemui dua orang bapak2 paruh baya menarik gerobak sampahnya tanpa alas kaki. Tampak piluh di wajah rentanya, menerjang keramaian jalan raya...bapak itu tetap menarik gerobaknya dengan penuh semangat. Hmm...hati sy bergetar, lalu pikiran sy meraba pd sisi manusiawi sy yg kadang lupa untuk bersyukur. Sekitar dua hari yg lalu, sy menjumpai seorang kakek menjajakan korannya di perempatan lampu merah. Dengan harga Rp. 1000,-/koran, di tengah hiruk pikuk jalan raya dan teriknya matahari..si kakek berjalan dr satu motor ke motor lain, dan satu mobil ke mobil lainnya. Kemudian sy melihat seorang bapak2, memikul kerupuk dagangannya...berjalan tanpa henti, dan entah sudah berapa kilometer yg ia tempuh. Kemudian ingatan sy membawa sy pada peristiwa kakek2 berusia sekitar 75th-an beberapa waktu yg lalu, yg pernah menjajakan keripik belutnya ke kantor...kakek itu mengendarai sepeda sederhananya dr Klaten. Membayangkan perjalanannya pun membuat sy merinding, terpikir betapa kerasnya mencari uang demi sesuap nasi. Dan masih banyak peristiwa2 lain, yg seharusnya dapat membuka mata sy untuk dapat lebih bersyukur. 
Uang seribu rupiah bagi beberapa orang mungkin tidak cukup berarti, tp untuk beberapa orang, mendapatkan seribu rupiah butuh usaha sangat keras. Dua sisi yg sangat berlawanan, tapi inilah realita kehidupan. Ada orang2 yg bergelimang harta, rumah bak istana, mobil berjajar di garasinya...tapi merasa masih belum cukup, kemudian ada beberapa orang tinggal di rumah susun, hanya bermodal kedua kaki sebagai sarana transportasi, dan makan dg menu seadanya...tapi hati mereka tenang karna merasa cukup. Ada beberapa orang yg "nrimo", menerima berapapun hasilnya. Dan ada orang yg "ga nrimo"...tidak menunaikan hak orang, istilah lainnya adalah mengambil hak orang untuk kepentingan pribadi. 
Pertanyaannya adalah, bahagiakah mereka? sy pun tidak tahu, karna bukan kapasitas sy untuk menghakimi. Karna ini tentang pilihan, dimana pilihan itu akan dipertanggungjawabkan oleh si empunya di hadapan-NYA. Menurut kamus sy, ukuran kebahagiaan bukanlah terletak pada raupun materi...tp pada hati yg tawakal, ikhlas, dan bersyukur tiada henti. Pernah sy merasa tidak bersyukur, lantas Alloh menegur sy dengan cara-NYA. DIA membukakan mata dan hati sy dengan peristiwa yg tidak mengenakkan dan kita menyebutnya dg "masalah". Mengingat betapa besar cinta-NYA pada sy, rasanya syukur sj tidak cukup. Kemudian musibah yg menimpa kakak kandung sy mggu lalu, menampar hati kecil sy...mengingatkan sy untuk jangan lupa bersyukur, karena Alloh menunjukkan kasih sayang-NYA dibalik musibah....yaitu nikmat sehat untuk kami sekeluarga. Sepatutnya semua kita kembalikan pada-NYA....sekeras apapun kita berusaha, jika IA tidak berkehendak..maka tak juga terjadi. Apapun yg kita miliki saat ini, jangan katakan "kurang"...karena ketika "kurang" menurut kita...maka akan jadi "lebih" untuk orang lain. Begitulah kemudian cara sy berpikir....dan Alhamdulillah sy bahagia dg apapun yg sy miliki. Indahnya bersukur melebihi apapun, dan ini pilihan sy....***)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar